INTI MENANGKAN TENDER PENGADAAN ALAT PENCATAT BBM PERTAMINA

Jakarta. Akhirnya, PT Pertamina (Persero) menetapkan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) menjadi pemenang proyek pengadaan alat pemantau konsumsi bahan bakar minyak menggunakan perangkat Radio Frequency Identification (RFID). Alat tersebut akan terpasang disetiap SPBU (Statiun Pengisian Bahan Bakar Umum) milik pertamina dan mobil pribadi sebagai alat pengontrol penggunaan BBM Bersubsidi.

Suhartoko, Senior Vice President Fuel Marketing and Distribution PT Pertamina menyatakan, PT INTI lolos dan memenuhi klasifikasi yang diberikan panitia lelang. Setelah ditetapkan sebagai pemenang tender, PT INTI berhak menyediakan perangkat dan sistem RFID untuk seluruh SPBU dan kendaraan pribadi di Indonesia dengan Nilai Proyek US$ 100 juta atau sekitar Rp. 960 miliar.

Penggunaan RFID  bertujuan agar penggunaan BBM yang digunakan setiap kendaraan pribadi tercatat. Dengan begitu, alat ini dapat membantu mengendalikan konsumsi yang ujung-ujungnya bisa mengurangi penggunaan BBM.

Uji coba peralatan buatan PT INTI

Agar bisa berjalan, Pertamina berharap pemerintah segera mengeluarkan peraturan yang mewajibkan seluruh kendaraan menggunakan RFID. Adanya payung hukum akan menjadi jaminan penggunaan RFID legal, dan merupakan kebijakan pemerintah yang harus dijalankan guna menekan penggunaan BBM bersubsidi.

Lewat penggunaan RFID bisa menekan biaya subsidi hingga Rp. 5 triliun per tahun, sehingga bila dijalankan selama lima tahun saja pemerintah bisa menghemat sebesar Rp. 25 triliun. Angka ini diperoleh berdasarkan ujicoba yang dilakukan Pertamina bersama PT INTI di sejumlah SPBU di Jakarta dan Cianjur Jawa Barat dengan hasil akurat.

Adapun PT INTI akan mendapat fee di setiap liter BBM subsidi yang mengalir ke setiap kendaraan. Jika besaran fee tak berubah, bila pemakaian BBM bersubsidi mencapai 154 juta liter per hari dan RFID berlaku nasional, maka potensi komisi pengoperasian RFID mencapai sekitar Rp. 5,4 milyar – Rp. 6,2 miliar perhari atau sekitar Rp. 2 triliun – Rp. 2,2 triliun per tahun. (sumber: Koran Kontan tanggal 01 April 2013).

Berita Terkait